Jumat, 15 April 2011

PSIKOLOGI PENDIDIKAN ( fase-fase pertumbuhan dan perkembangan manusia )

BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan menempati kedudukan paling tinggi dan suatu yang paling diprioritaskan. Pendidikan merupakan hal terpenting guna mewujudkan manusia yang berbudaya dan berperadapan. Mengapa? Sebab pendidikan merupakan wasilah (jalan) guna membentk insan yang seutuhnya (insane kamil).
Namun pendidikan tidak selamanya berhasil mencapai target yang diharapkan, bahkan banyak sekali pendidikan yang mengalami kegagalan, sehingga tidak mampu mengangkat martabat manusia menuju kesempurnaan.
Persoalan-persoalan yang sering terjadi dalam pendidikan seringkali tidak adanya evaluasi terhadap penyebab kegagalannya, baik dari segi metode, pendekatan, pertimbangan, serta aspek perkembangan dan pertumbuhan peserta didik.
Untuk itu, pendidik harus memperhatikan perkembangan peserta didiknya, terutama penguasaan yang menyeluruh terhadap tahap pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Hal ini bertujuan guna membuka esensi kemanusian peserta didik sebagai acuan dalam menentukan pola pendidikan dan pengajaran.
Oleh karena itu kami mencoba membahas bagaimana memperhatikan tahap petumbuhan dan perkembangan manusia fase demi fase.

  1. Rumusan Masalah
Agar lebih sistematis dan mudah dipahami, maka kami menyusun rumussan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana proses pertumbuhan dan perkembangan manusia?
2.      Apa saja aspek-aspek, serta hukum-hukum pertumbuhan dan perkembangan pribadi manusia?


BAB II
PENJELASAN
  1. Pertumbuhan Pribadi Manusia
1)      Pengertian Pertumbuhan
Dalam kamus bahasa Indonesia pertumbuhan diartikan dengan bertambah-tambah, tibul dan lain-lain.[1] Namun pertumbuhan  dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan kuatitatif ini dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas dan sebagainya.[2]
2)      Peristiwa Pertumbuhan Manusia
Peristiwa pertumbuhan manusia bertolak dari peristiwa awal hereditas. Manusia terbentuk dari materi yang lemah yaitu materi genetis, secara genetis mula-mula satu sperma memasuki sebuah telur satu individu baru mulai membentuk diri. Kehidupan awal dari individu dipengaruhi oleh kondisi ibu, sedangkan peran ayah hanyalah memberikan kemungkinan yang tepat agar individu itu terkonsep. Pertama-tama sperma-sperma yang menyerupai bulatan kepala da berekor panjang bergerak dan berenang cepat memasuki rahim ibu dan hanya satu diantaranya yang dapat sampai kesasaran yaitu telur. Ketika sperma menembus dan memasuki telur, kepalanya mulai membuka dan mensenyawakan dua puluh empat kromosom yang tadinya terbungkung. Dalam waktu yang hampir bersamaan “necieus” dalam dalam telur pecah dan melepaskan pula kedua puluh empatnya kromosom sebagai sumbangan dari pihak ibu untuk membentuk seorang anak.[3]
Dengan demikian individu mulai tebentuk dari empat puluh delapan kromosom. Pertumbuhan berlanjut dengan adanya proses “division” dan “redivision” (pembagian sel dan pembagian pembelahan kembali pada sel-sel). Ratapan kromosom tumbuh lagi semakin banyak membentuk butiran yang menyerupai embun yang disebut “beads” yang berisikan “genes”.
Dan genes inilah yang merupkan faktor penentu dalam hereditas, dan setiap genes mempuyai fungsi tertentu dalam pertumbuhan manusia. Kemudian, maka telur menjadi masak dan masuklah saraf pada ibu. Sel-sel tersebut tidak lagi tinggal bersama-sama, tatkala jumlah sel masih terbatas, sel-sel itu mulai mengadakan ”specializing” (spesialisasi) yaitu beberapa bagian menjadi sel-sel tulang, sel-sel kulit, sel-sel daging, sel-sel otak, sel-sel otot dan lain sebagainya. Semua sel yang telah terspesialisasi ini tumbuh terus dan membentuk berbagai dari tubuh manusia.
Namun perlu diketahui bahwa tidak semua aspek pribadi manusia diwarisi dari orang tuanya. Hal-hal yang tidak diwarisi meliputi beberapa aspek, baik materil pertumbuhan fisik, maupun mental. Dari sifat-sifat genes yang dimiliki, individu dapat saja menjadi orang yang pemurung, periang, pendiam, lamban, ataupun cerdas. Akan tetapi, keadaan fisik dan mental seperti penyakit, kelelahan, kemiskinan, kegagalan atau kemalasan adalah tidak diwariskan, melaikan diperoleh dari pendidikan. Perlengkapan mental setiap individu sejak lahir adalah sama seperti halnya pada orang dewasa, begitu pula perlengkapan fisik, dengan demikian, pertumbuhan itu dipengaruhi, baik oleh hereditas maupun lingkungan.[4]
3)      Hukum-hukum Yang Mengatur Pertumbuhan
Pertama: pertumbuhan memiliki dua aspek perubahan yaitu perubahan kuantitatif yang mencangkup “divisioan” dan perbanyakan kromosom, sel-sel, penambahan jumlah seperti gigi, rambut. Disamping itu, ada perubahan kualitatif yang mencangkup penyempurnaan struktur fisiologis. Kedua: pertumbuhan merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan teratur. Ketiga: tempo pertumbuhan tidak sama. Keempat: pola pertumbuhan dimodifikasi oleh kondisi-kondisi didalam dan diluar badan. Kelima: pertumbuhan adalah kompleks dan semua aspeknya saling berhubungan.[5]



4)      Aspek-Aspek Yang Mempengaruhi Pertumbuhan
a.       Anak sebagai keseluruhan, yaitu pertumbuhan anak baik fisik, intelektual maupun social sangat ditentukan oleh latar belakang keluarga, latar belakang pribadinya dan aktivitas sehari-harinya.
b.      Umur mental anak mempengaruhi pertumbuhannya.
c.       Permasalahan tingkh laku sering berhubungan dengan pola pertumbuhan.
d.      Penyesuaian pribadi dan sosial mencerminkan dinamika pertumbuhan.
5)      Pertumbuhan Fisik Yang Normal
Pertumbuhan meliputi kelenjar, pertumbuhan badan umumnya, pertumbuhan sistem saraf dan pertumbuhan seksual. Pertumbuhan kelenjar terjadi secara pesat sejak lahir sam pai umur 10 tahun, dan pada umur 12 tahun kecepatannya menurun sampai umur 20 tahun.
Pertumbuhan badan terjadi secara pesat pada tahun pertama, kemudian pada tahun kedua tumbuh konstan hinggga umur 12 tahu dan setelah itu, masa pubertas tumbuh secara pesat hingga umur 20 tahun. Pertumbuhan sistem saraf terjadi sejak lahir secara pesat hingga umur 4 tahun, setelah itu kecepatannya berkurang sampai umur 12 tahun. Dari umur 12 tahun sampai umur 20 tahun pertumbuhan sistem saraf kecepatannya tetap. Pertumbuhan seksual terjadi secara  menyolok mulai pada masa pubertas. Pada anak laki-laki umumnya pada umur 12 atau 13 tahun, sedangkan pada anak perempuan lebih awal yaitu mulai awal menstruasi pertama sekitar umur 10 tahun sampai umur 16 tahun. Pada masa pubertas ini mulailah tumbuh rambut khusus pada tubuh, baik laki-laki maupun perempuan. Pada anak laki-laki mulai terjadi perubahan suara yang lebih besar, badan semakin tegap.
Pertumbuhan seksual yang secara pesat dimulai dari masa pubertas berlangsung terus secara pesat hingga umur 20 tahun. Pertumbuhan yang berhubungan dengan tingggi dan berat badan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan internal misalnya, makanan dan gizi. Kondisi lingkungan eksternal misalnya, suhu, udara, aktivitas social dan lain-lian serta materil hereditas.[6]
Sesuai dengan prinsip pertumbuhan manusia seseorang anak memerlukan bimbingan sesuai dengan prinsip yang dimilikinya, meliputi:
  1. Prinsip biologis yaitu bahwa secara fisik, anak yang baru dilahirkan berada dalam keadaan lemah atau ia belum dapat berdiri sendiri sebab manusia bukan mukhluk instinktif. Keadaan tubuhnya belum tumbuh secara sempurna untuk difungsikan secara maksimal.
  2. Prinsip takberdaya yaitu sejak dilahirkan hingga menginjak usia dewasa anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya. Ia sama sekali tak berdaya unutk mengurus dirinya sendiri.
  3. Prinsip eksplorasi yaitu bahwa kemantapan dan kesempurnaan perkembangan potensi manusia yang dibawa sejak lahir memerlukan pengembangan melalui pemeliharaan dan latihan.[7]

  1. Perkembangan Pribadi Manusia
1)      Pengertian Perkembangan
Perkembangan dalam kamus bahasa Indonesia diartikan dengan mekar, terbuka, terbentang dan lain-lain.[8] Namun perkembangan pribadi adalah perubahan kualitatif dari setiap fungsi kepribadian sebagai akibat dari pertumbuhan dan belajar. Baik perubahan fungsi-fungsi jasmaniah maupun fungsi-fungsi kepribadian yang bersifat kejiwaan.[9]
2)      Hukum-Hukum Perkembangan
Perkembangan tidak terjadi secara kebetulan, melaikan disebabkan oleh beberapa hukum-hukum tertentu, yaitu.
a)      Perkembangan kualitatif yaitu perubahan fungsi secara kualitatif.
b)      Perkembangan dipengaruhi oleh proses dan hasil belajar.
c)      Pertambahan usia
d)     Masing-masing individu mempuyai tempo perkembangan yang berbeda.
e)      Perkembangan individu mengikuti pola umum yang sama.
f)       Perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan.
g)      Perkembangan meliputi proses individu dan integrasi.
3)      Tahap-Tahap Perkembangan Pribadi Manusia.

A.    Tahap-tahap perkembangan fisiologis yaitu perubahan kualitatif terhadap strukturdan fungsi-fungsi fisiologis. Sigmund Freud mengemukakan 6 tahap perkembangan fisiologis manusia yaitu:
1.      Tahap oral: (umur 0 sampai sekitar 1 tahun) dalam tahap ini, mulut bayi merupakan daerah utama dari pada aktivitas yang dinamis pada manusia.
2.      Tahap anal: (antara umur 1 tahun sampai 3 tahun) dalam tahap ini, dorongan dan aktivitas gerak individu lebih banyak terpusat pada fungsi pembuangan kotoran.
3.      Tahap falish: (antara umur 3 tahun sampai 5 tahun) dalam tahap ini, alat-alat kelamin merupakan daerah perhatian yang penting dan pendorong aktivitas.
4.      Tahap latent: (antara umur 5 tahun sampai 12 dan 13 tahun) dalam tahap ini dorongan aktivitas dan pertumbuhan cenderung bertahan dan sepertinya istrihat dalam arti tidak meningkatkan kecepatan pertumbuhan.
5.      Tahap pubertas: (antara umur 12, 13 sampai 20 tahun) dalam tahap ini dorongan aktivitas kembali, kelenjar indoktrin tumbuh pesat dan berfungsi mempercepat pertumbuhan kearah kematangan.
6.      Tahap genital: (setelah umur 20 tahun dan seterusnya) dalam tahap ini pertumbuhan genital merupakan dorongan penting bagi tingkah laku seseorang.[10]

B.     Tahap-Tahap Perkembangan Psikologis
Menurut Jacque Rousseau, bahwa perkembangan fungsi dan kapasitas kejiwaaan manusia berlangsung dalam 5 tahap yaitu:
1.      tahap perkembangan masa bayi: (sejak lahir sampai umur 2 tahun) dalam tahap ini, perkembangan pribadi didominasi oleh perasaan. Perasaan ini tidak tumbuh dengan sendirinya, melaikan berkembang sebagai akibat dari adanya reaksi-reaksi bayi terhadap stimuli lingkungannya.
2.      tahap perkembangan masa kanak-kanak: (umur 2 tahun sampai 12 tahun) dalam tahap ini, perkembangan pribadi anak dimulai dengan berkembangnya fungsi-fungsi indra anak untuk mengadakan pengamatan.
3.      tahap perkembangan pada masa preadolesen: (umur 12 tahub sampai 15 tahun) dalam tahap ini, perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominant.
4.      perkembangan pada masa adolesen: (umur 15 tahun sampai 20 tahun)dalam tahap ini, kualitas kehidupan manusia diwarnai oleh dorongan seksual yang kuat, keadaan ini membuat orang tertarik kepada lain jenis.
5.      masa pematangan diri: (setelah umur 20 tahun) dalam tahap ini perkembangan fungsi kehendak mulai dominan. Orang mulai dapat membedakan adanya tiga macam tujuan hidup pribadi yaitu: pemuasan keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok dan pemuasan keinginan masyarakat. Realisasi setiap keinginan ini menggunakan fungsi penalaran, sehinggga mulai mampu melakukan “self direction end self controle”  dengan menggunakan dua kemampuan ini, maka manusia tumbuh dan berkembang menuju kematangan untuk hidup berdiri sendiri dan bertanggung jawab.[11]

C.     Tahap-Tahap Perkembangan Secara Pedagogis
Tahap ini terdapat dua sudut tinjauan, pertama dari sudut tinjauan teknis umum penyelenggaraan pendidikan dan yang kedua dari sudut tinjaun teknis khusus perlakuan pendidikan.[12]
Mengenai tahap perkembangan pribadi manusia ditinjau dari sudut teknis umum penyelenggaraan pendidikan terdiri dari 5 tahap, yaitu:
  1. Tahap enam tahun pertama: tahap perkembangan fungsi pengindraan yang memungkinkan anak mulai mampu untuk mengenal lingkungan.
  2. Tahap enam tahun kedua: tahap perkembangan fungsi ingatan dan imajinasi individu yang memungkinkan anak mulai mampu menggunakan fungsi intelektual dalam usaha mengenal dan menganalisis lingkungan.
  3. Tahap enam tahun ketiga: tahap perkembangan fungsi intelektual yang memungkinkan anak mampu mengevaluasi sifat-sifat serta menemukan hubungan-hubungan antar variable  didalam lingkungannya.
  4. Tahap enam tahun keempat: tahap perkembangan fungsi kemampuan berdikari.” self-direction” dan “self-controle”.
  5. Tahap kematangan pribadi: tahap dimana intelek memimpin perkembangan semua aspek kepribadian menuju kematangan pribadi dimana manusia berkemampuan mengasihi Allah dan sesama manusia.
Sedangkan tahap perkembangan pribadi ditinjau dari sudut teknis khusus perlakuan pendidikan yaitu:
  1. Untuk tahap kematangan prenatal:
§  Penjagaan kesehatan lingkungan fisiologis ibu.
§  Pemeliharaan makanan (gizi, protein, vitamin).
§  Pemeliharaan tingkah laku orang tua terutama ibu yang tengah mengandung untuk menghindari sifat hereditas yang mengganggu perkembangan fungsi fisiologis bayi.
§  Pengendaliam peragai dan sikap-sikap yang negative pada diri ibu kandung.
  1. Untuk anak dalam tahap perkembangan vital.
§  Pemeliharaan makanan  dan gizi bagi anak.
§  Pembiasaan untuk dapat hidup teratur misalnya dalam hal makan, tidur dan buang air.
  1. Untuk anak dalam tahap perkembangan ingatan.
§  Latihan indra.
§  Latuhan perhatian.
§  Latihan ingatan.
  1. Untuk anak dalam tahap perkembangan keakuan.
§  Menghindari perlakuan memanjakan.
§  Menghindari perlakuan yang bersifat hukum.
§  Membimbing penyesuaian diri pada anak dengan lingkungan.
  1. Untuk anak dalam tahap perkembangan pengamatan.
§  Menciptakan lingkungan yang sehat dan pedagogis.
§  Melatih fungsi pengamatan.
§  Memberikan teladan-teladan hidup yang positif.
§  Memberikan stimuli dan informasi yang objektif.
  1. Untuk anak dalam tahap perkembangan intelektual.
§  Memberikan latihan berfikir.
§  Memberikan pengalaman langsung.
§  Memberikan motivasi intrinsic agar anak mau belajar secara oto-aktif.
§  Menggunakan evaluasi sebagai sarana motivasi belajar.
§  Memberikan bimbingan secara psikologis, adil dan fleksibel.
  1. Untuk anak dalam tahap perkembangan pra-remaja.
§  Hindarilah sikap menunggu atau membiarkan tingkah laku negative anak pra-remaja.
§  Mendekati anak dengan penuh persahabatan.
§  Memberi petunjuk dan pengarahan secara simpatik dengan menumbuhkan kepercayaan anak terhadap pendidik.
§  Jangan mengekang, tetapi jangan membiarkan.
  1. Untuk anak dalam perkembangan remaja.
§  Memberikan kepercayaan kepada anak unutk melaksanakan tugas-tugas
§  Mengevaluasi dan mengarahkan belajar anak secara bijaksana.
§  Membeimbing penemuan pandangan hidup yang sesuai dengan pribadi dan lingkungannya.
§  Menanamkan semangat patriotik atau kecintaan kepada bangsa dan tanah air.
§  Memupuk jiwa dan semangat wiraswasta di berbagai bidang.
  1. Untuk anak didik tahap pematangan pribadi atau kedewasaan.
§  Memupuk rasa tanggung jawab dan pengabdian.
§  Membimbing pengenalan tentang makna hidup.
§  Memberi bekal guna mendapatkan pekerjaan.
§  Memberi bekal hidup keluarga dan masyarakat.


BAB II
PENUTUP
  1. Kesimpulan
ü  Fase pertumbuhan merupakan perubahan kuantitatif pada materil sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan.
ü  Fase pertumbuhan manusia meliputi peristiwa pertumbuhan pribadi manusia, hukum-hukum yang mengatur pertumbuhan, aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan.
ü  Fase perkembangan merupakan  perubahan kualitatif dari setiap fungsi kepribadian akibat dari pertumbuhan dan belajar.
ü  Fase perkembangan manusia meliputi hukum-hukum perkembangan, tahap-tahap perkembangan baik secara fisiologis, psikologis serta pedagogis.

  1. Daftar Pustaka
Syamsul Arifin, Bambang. Psikologi Agama. CV Pustaka Setia, Bandung, 2008
Anwar, Dessy. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Karya Abditama, Surabaya. 2001
Soemanto, Wasty. Psikologi Pendidikan. Rineka CiptaJakarta. 2006
Mazhahiri, Husain. Pintar Mendidik Anak. Lentera, Jakarta. 2000


[1] Dessy Anwar: H. 552
[2] Wasty soemanto : H. 44
[3] Ibid: H. 46
[4] Drs Bambang Samsul Arifin. H. 47
[5] Wasty soemanto : H. 53
[6] Ibid. H. 55-57
[7] Drs Bambang Samsul Arifin. H. 62
[8] Dessy Anwar: H. 231
[9] Wasty soemanto. H. 58
[10] Husain Mazhari: H. 85

[11] Wasty soemanto : H. 68
[12] Ibid. H. 78

PSIKOLOGI PENDIDIKAN ( evaluasi penilaian dalam belajar )

A.    LATAR BELAKANG
Mengingat  betapa pentingnya kegiatan mengukur dan menilai peserta didik,maka sudah seharusnya setiap guru memiliki pengetahuan tentang konsep dasar penilaian serta ketrampilan mengaplikasikannya dalam kegiatan pembelajaran. Kenyataan selama ini, misalnya masih ada sebagian guru yang dalam melaksanakan penilaian lebih mengacu pada penilaian secara individual yang lebih menekankan pada aspek kognitif .
Padahal dalam penilaian harus memperhatikan tiga aspek yaitu: pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Ketika aspek ini harus dinilai secara proporsional sesuai dengan karakteristik atau sifat dari mata pelajaran yang bersangkutan. Akibatnya dapat kita saksikan yaitu banyaknya para lulusan hanya menguasai teori saja dan tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan yang mereka kuasai.


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah pengertian dari evaluasi ?
2.      Apakah pentingnya evaluasi dalam pendidikan ?
3.      Apakah tujuan  pelaksanaan evaluasi dari pendidikan ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Evaluasi Belajar
Menurut harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris yang berarti evaluation,dalam bahasa Arab : At Takdir, dalam bahasa Indonesia berarti penilaian. Akar katanya adalah value, dalam bahasa Arab : al-Qimah, di dalam bahasa Indonesia berarti : nilai. Dengan demikian secara harfiah evaluasi pendidikan ( educational evaluation = at taqdir al-Tarbawiy ) dapat diartikan penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.[1]
Sudijono[2] menyebutkan : “Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu”. Selanjutnya Sudijono [3] juga menyebutkan: “Evaluasi pendidikan adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga dapat diketahui mutu atau hasil-hasilnya”. Dengan demikian evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan [4]  menyatakan “Penilaian adalah merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan”.
Mengenai pengertian evaluasi pendidikan, Lembaga Administrasi Negara[5]mengemukakan bahwa batasan tentang evaluasi pendidikan adalah (1) Evaluasi pendidikan adalah proses/kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan. (2) Evaluasi pendidikan adalah usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan.
Bertitik tolak dari uraian di atas, maka evaluasi dalam bidang pendidikan (khususnya evaluasi terhadap prestasi belajar peserta didik) merupakan suatu proses yang sistematis, yang berusaha untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencapaian siswa atas tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Sekaligus dapat memberikan gambaran tentang efektivitas pengajaran yang  dilakukan oleh guru yang bersangkutan.
Evaluasi yang dilaksanakan secara berkesinambungan, akan membuka peluang bagi evaluator untuk membuat perkiraan (estimations), apakah tujuan yang telah dirumuskan akan dapat dicapai pada waktu yang telah ditentukan, ataukah tidak. Apabila berdasarkan data hasil evaluasi itu diperkirakan bahwa tujuan tidak akan dapat dicapai sesuai dengan rencana, maka evaluator akan berusaha untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebabnya, serta mencari dan menemukan jalan keluar atau cara-cara pemecahannya. Jadi kegiatan evaluasi pada dasarnya juga dimaksudkan untuk melakukan perbaikan atau penyempurnaan usaha.
Menurut Sudijono [6] bahwa di antara kegunaan yang dapat dipetik dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah:
  1. Terbukanya kemungkinan bagi evaluator guna memperoleh informasi tentang hasil-hasil program yang telah dicapai dalam rangka pelaksanaan program pendidikan.
  2. Terbukanya kemungkinan untuk dapat diketahuinya relevansi antara program pendidikan yang telah dirumuskan, dengan tujuan yang hendak dicapai
  3. Terbukanya kemungkinan penyesuaian dan penyempurnaan usaha perbaikan, penyesuaian dan penyempurnaan program pendidikan yang dipandang lebih berdaya guna, sehingga tujuan yang dicita-citakan akan dapat dicapai dengan hasil yang sebaik-baiknya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan bagian yang  mutlak dari pembelajaran. Dengan adanya evaluasi, guru telah mendapatkan pelajaran yang cukup berharga untuk menyempurnakan metode-metode yang sudah baik dan mengatasi kekurangan-kekurangan metode yang tidak efektif.

B.     Fungsi Evaluasi Pendidikan
Guru ataupun pengelola pengajaran melakukan evaluasi dengan maksud dapat mengetahui prestasi belajar siswa, dapat mengetahui seberapa jauh efisiensi metode, teknik dan alat yang digunakan, mengetahui yang telah dipelajari siswa dan kesulitan-kesulitan yang dialami selama belajar. Evaluasi juga untuk mengukur seberapa jauh atau seberapa besar kemajuan atau perkembangan program yang dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah dirumuskan.
Evaluasi pendidikan sendiri memiliki fungsi secara umum dan secara khusus. Adapun fungsi dari evaluasi pendidikan secara umum adalah :[7]
1.      Mengukur kemajuan
Apabila tujuan dalam kegiatan telah tersusun atau telah direncanakan secara bertahap, maka dengan evaluasi yang berkesinambungan akan dapat dipantau, tahapan manakah yang berjalan mulus, dan tahapan mana yang mengalami kendala dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu dengan adanya evaluasi ini terbuka kemungkinan bagi evaluatoruntuk mengukur seberapa jauh atau seberapa besar kemajuan atau perkembangan program yang dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah dirumuskan.
2.      Menunjang kebutuhan rencana
Evaluasi yang dilakukan berkesinambungan akan membuka peluang bagi evaluator untuk membuat perkiraan, apakah tujuan yang teah dirumuskan akan dapat tercapai tepat pada waktunya ataukah tidak. Apabila berdasar data hasil evaluasi itu diperkirakan bahwa tujuan tidak akan dapat tercapai sesuai dengan rencana, maka evaluator akan berusaha untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebabnya, serta mencari dan menemukan jalan keluar atau cara-cara pemecahannya.
3.      Memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali
Bukan tidak mungkin dari data-data hasil evaluasi yang telah diperoleh perlu diadakannya perbaikan-perbaikan. Baik perbaikan yang menyangkut organisasi, tata kerja, dan bahkan mungkin perbaikan terhadap tujuan-tujuan organisasi itu sendiri. Perbaikan tanpa didahului oleh kegiatan evaluasi adalah tidak mungkin, sebab untuk apa yang harus diperbaiki, dan mengapa hal itu perlu diperbaiki, mutlak membutuhkan hasil evaluasi suatu program

C.    Objek ( Sasaran ) Evaluasi Pendidikan
Yang dimaksud dengan objek atau sasaran evaluasi pendidikan adalah segala sesuatu yang bertalian dengan kegiatan atau proses pendidikan yang dijadikan titik pusat perhatian atau pengamatan.
Objek dari evaluasi pendidikan meliputi tiga aspek, yakni :[8]
1.      Aspek Pengetahuan ( Kognitif )
2.      Aspek Sikap ( Afektif )
3.      Aspek Keterampilan ( Psikomotorik )
Ketiga aspek tersebut harus dinilai secara proporsional sesuai dengan karateristik atau sifat dari mata pelajaran yang bersangkutan.

D.    Subjek ( Pelaku ) Evaluasi Pendidikan di Sekolah
Subjek evaluasi pendidikan adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi dalam bidang pendidikan.
Berbicara mengenai subjek evaluasi pendidikan di sekolah maka subjeknya adalah guru, dimana didalam kegiatan evaluasi pendidikan sasaran evaluasinya adalah prestasi belajar peserta didik.

E.     Tujuan Evaluasi
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sudijono [9]bahwa tujuan evaluasi pendidikan ada dua yaitu:
  1. Tujuan Umum
a.       Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
b.      Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu.
  1. Tujuan Khusus
a.       Untuk meransang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan. Tanpa adanya evaluasi maka tidak mungkin timbul kegairahan atau ransangan pada diri peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasinya masing-masing.
b.      Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.
Selanjutnya Arikunto [10] mengemukakan bahwa tujuan atau fungsi evaluasi ada beberapa hal :
1.        Penilaian berfungsi selektif
Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri mempunyai tujuan, antara lain:
a.       Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.
b.      Untuk memilih siswa yang dapat naik kelas atau tingkat berikutnya
c.       Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa
d.      Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebagainya.
2.        Penilaian berfungsi diagnotif
Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Jadi dengan mengadakan penilaian, guru telah mengadakan diagnosa kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahan.
    1. Penilaian berfungsi sebagai penempatan
Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu penilaian. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
    1. Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan.
Arikunto [11]juga menyebutkan bahwa dalam dunia pendidikan, khususnya dunia persekolahan, penilaian mempunyai makna ditinjau dari berbagai segi:
1.        Makna bagi siswa[12]
a.       Memuaskan
Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan, dan hal itu menyenangkan, tentu kepuasan itu ingin diperolehnya lagi pada kesempatan lain waktu.
b.      Tidak memuaskan
Jika siswa tidak puas dengan hasil yang diperoleh, ia akan berusaha agar lain kali keadaan itu tidak terulang lagi
2.        Makna bagi guru
  1. Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui siswa-siswa mana saja yang sudah melanjutkan pelajarannya, karena sudah berhasil menguasai bahan, maupun mengetahui siswa-siswa yang belum berhasil menguasai bahan. Dengan petunjuk ini guru dapat lebih memusatkan perhatiannya kepada siswa-siswa yang belum berhasil.
  2. Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan pengajaran di waktu yang akan dating tidak perlu diadakan perubahan.
  3. Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum
3.        Makna bagi sekolah
a.       Dengan hasil penilaian akan diketahui bagaimana hasil belajar siswa-siswanya, dapat diketahui pula apakah kondisi belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum. Hasil belajar merupakan cermin kualitas sesuatu sekolah.
b.      Melalui evaluasi dapat diperoleh informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu sehingga dapat merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa yang akan datang.
c.       Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ke tahun dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah, yang dilakukan oleh sekolah sudah memenuhi standar atau belum.
Dengan mengetahui makna penilaian ditinjau dari berbagai segi dalam sistem pendidikan, diperoleh bahwa evaluasi dalam pelaksanaan pendidikan tujuannya adalah selalu diarahkan pada siswa baik secara individual maupun klasikal.

F.     Ruang Lingkup Evaluasi Pendidikan di Sekolah.
Secara umum, ruang lingkup dari evaluasi pendidikan  dalam bidang sekolah mencakup pada tiga aspek antara lain :
1.      Evaluasi mengenai program pengajaran
Evaluasi terhadap program pengajaran mencakup tiga hal. Antara lain :
a.       Evaluasi terhadap proram pengajaran
b.      Evaluasi terhadap isi program pengajaran
c.       Evaluasi terhadap strategi belajar mengajar.
2.      Evaluasi Proses Pelaksanaan Pembelajaran
Dalam hal ini mencakup beberapa hal antara lain :
a.       Kesesuaian antara proses belajar mengajar yang berlangsung dengan garis-garis besar program pengajaran yang telah di tentukan.
b.      Kesiapan guru dalam melaksanakan program pembelajaran.
c.       Kesiapan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
d.      Minat atau perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran
e.       Keaktifan atau partisipasi siswa dalam selama proses pembelajaran berlangsung.
f.       Peranan bimbingan dan penyuluhan terhadap siswa yang memerlukannya
g.      Komunikasi dua arah antara Guru dan murid selam proses pembelajaran berlangsung.
h.      Pemberian dorongan atau motifasi terhadap siswa
i.        Pemberian tugas-tugas pada siswa dalam rangka penerapan teori-teori yang diperoleh didalam kelas.
j.        Upaya menghilangkan dampak negatif yang timbul sebagai akibat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah.
3.      Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi terhadap hasil belajar peserta didik ini mencakup :
a.       Evaluasi mengenai tingkat penguasaan peserta didik terhadap tujuan-tujuan khusus yang ingin dicapai dalam unit-unit program pengajaran yang bersifat terbatas.
b.      Evaluasi mengenai tingkat pencapaian peserta didik terhadap tujuan-tujuan pengajaran.



BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
a.       Sasaran penilaian dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilai menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut.
b.      Unsur-unsur dalam sasaran penilaian meliputi input (para calon peserta didik), transformasi dan output (prestasi belajar yang berhasil diraih oleh masing-masing peserta didik).
c.       Penilaian hasil belajar mengisyaratkan hasil belajar sebagai objek yang menjadi sasaran penilaian. Hasil belajar sebagai sasaran penilaian dapat dibedakan dalam tiga aspek yaitu kognetif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keteramplan). masing-masing aspek mempunyai karakteristik tersendiri sebab setiap aspek/ ranah mempunyai cakupan dan hakikat yang berbeda.
 DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, 1994, Petunjuk Pelakasanaan Kurikulum/GBPP Pendidikan
Ihsan, Hamdani, dkk, 2007, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Pustaka Setia
Sahlan, Moh, 2007, Penilaian Berbasis Kelas, Jember : Center For Society Studies
Sudjono, Anas, 2003, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT RajaGravindo Persada
........................, 2007, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT RajaGravindo Persada
Suharsimi, Arikunto,1991, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT.Bumi Aksara


[1] Sudjono, Anas, 2003, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT RajaGravindo Persada, hal : 1
[2] Sudjono, Anas, 2007, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT RajaGravindo Persada, hal : 1
[3] Sudjono, Anas, 2003, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT RajaGravindo Persada, hal : 3
[4] Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, 1994,Petunjuk Pelakasanaan Kurikulum/GBPP Pendidikan, hal : 2
[5] Sudjono, Anas, 2003, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT RajaGravindo Persada, hal : 2
[6] Sudjono, Anas, 2003, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT RajaGravindo Persada, hal : 17
[7] Sudjono, Anas, 2003, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT RajaGravindo Persada, hal : 8
[8] Sahlan, Moh, 2007,Penilaian Berbasis Kelas, Jember : Center For Society Studies, hal : 2
[9] Ibid : 16-17
[10] Suharsimi, Arikunto,1991, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT.Bumi Aksara. Hal : 9

[11] Ibid : 6-7
[12] Ihsan, Hamdani, dkk, 2007, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Pustaka Setia, hal : 216